Hari-hari ini setiap siapapun pasti merasakan kenikmatan menyeruput kopi. Bahkan menjadi kekinian kalau habis ngopi sambil difoto berbagai rupa, gaya dan penampakan kopi dalam hiasan seni menyeruput adalah kebiasaan wajib. Heemmm,… sedap, nikmat dan plong rasanya.
Sekitar tahun 2005 untuk
pertama kali saya mengunjungi Kabupaten Pacitan. Berkenalan dengan seorang
gadis desa yang luar biasa hebatnya. Si gadis ini tinggal di desa Purwoasri
Kebongagung dengan predikat Desa Mandiri penghasil produk Gerabah dan para Petani
yang tangguh.
Sungguh diluar kebiasaan, kopi
hitam alami dengan racikan khas asli daerah pacitan itu sehabis dicuci bersih
ditiriskan kemudian di goreng wajan gerabah di atas panasya tunggu berbahan
bakar kayu, ranting pohon atau bekas buangan kayu balakan. Perlahan diaduk–aduk
sampai menghasilkan perubahan warna kopi dan bunyi kopi duk,..duk…tanda kopi
telah matang.
setelah kopi telah matang di goring,
kopi di didiamkan beberapa saat. dan tibalah waktunya kopi di tumbuk (di deplok). Wah sebenarnya sejarah kopi ini diracik saya
kurang begitu jelas, perlu diskusi panjang dengan mantan pacar, hehehe saat ini
dialah istriku kakasihku dan ibu dari anak - anaku.
Kembali ke laptop. Budaya ngopi
sejak zaman dulu memang telah ada. Bahkan telah menjamur warung kopi (WARKOP),
Kedai Kopi, Café, sampai Gerai yang modern menghiasi kehidupan manuasi modern
saat ini. Merebaknya seperti jamur
sekitar tahun 2010 an, budaya ngopi lintas generasi telah membentuk
komunitasnya dan menjadi ajang bergairahnya bisnis Warkop, Kedai Kopi, Café dan
serangan gerai kopi modern.
Awal tahun 2017, bersama istri
mulai mengamati filosofi dan distribusi bisnis kopi ternyata masih terbuka
kesempatan berwirausaha. Ya, perlu menciptakan platform bisnis komunitas
penikmat kopi. Ternyata saya mendapatkan sebuat istilah “Kopi yang baik akan
selalu menemukan penikmatnya” (Mokhabika; 10 April 2017).
Kami mulai memikirkan alur
persiapan inovasi kemasan dan branding. Wah, sungguh ini perlu di endoser
ya. Karena "Deplok Itu bikin
Plong" saya dan istri langsung bergerak cepat mempersiapkan bagaimana Kopi
Indonesia mendapatkan kedaulatannya. Ingat kita sebagai negara penghasil kopi
nomer 3 terbesar di dunia dengan jumlah variatas kopi unggulan setiap daerah.
Inilah bentuk apresiasi saya
dan istri membumikan setiap rasa cinta, aroma, dan karisma kedaualatan Kopi
Indonesia. Dengan wajah baru penyajian secara tradisional “deplok “. Di mulai
dari Pacitan, tanah kelahiran Presiden ke-6 RI Bapak. Dr. Susilo Bambang
Yudoyono kami memproduksi Kopi Deplok Pacitan.
Terima atas keberkahan sang
pencipta kepada bumi Indonesia
Terima kasih istri ku engkau
mengajarkaku kecintaan, kesegaran dan kenikmatan kopi
I Love Coffee
La Mema Parandy
CEO PapaLame Coffee
CEO PapaLame Coffee


Tidak ada komentar:
Posting Komentar