Rabu, 12 April 2017

Deplok Itu bikin Plong,…!


Hari-hari ini setiap siapapun pasti merasakan kenikmatan menyeruput kopi. Bahkan menjadi kekinian kalau habis ngopi sambil difoto berbagai rupa, gaya dan penampakan kopi dalam hiasan seni menyeruput adalah kebiasaan wajib. Heemmm,… sedap, nikmat dan plong rasanya.

Sekitar tahun 2005 untuk pertama kali saya mengunjungi Kabupaten Pacitan. Berkenalan dengan seorang gadis desa yang luar biasa hebatnya. Si gadis ini tinggal di desa Purwoasri Kebongagung dengan predikat Desa Mandiri penghasil produk Gerabah dan para Petani yang tangguh.

Sungguh diluar kebiasaan, kopi hitam alami dengan racikan khas asli daerah pacitan itu sehabis dicuci bersih ditiriskan kemudian di goreng wajan gerabah di atas panasya tunggu berbahan bakar kayu, ranting pohon atau bekas buangan kayu balakan. Perlahan diaduk–aduk sampai menghasilkan perubahan warna kopi dan bunyi kopi duk,..duk…tanda kopi telah matang.

setelah kopi telah matang di goring, kopi di didiamkan beberapa saat. dan tibalah waktunya kopi di tumbuk (di deplok).  Wah sebenarnya sejarah kopi ini diracik saya kurang begitu jelas, perlu diskusi panjang dengan mantan pacar, hehehe saat ini dialah istriku kakasihku dan ibu dari anak - anaku.

Kembali ke laptop. Budaya ngopi sejak zaman dulu memang telah ada. Bahkan telah menjamur warung kopi (WARKOP), Kedai Kopi, Café, sampai Gerai yang modern menghiasi kehidupan manuasi modern saat ini.  Merebaknya seperti jamur sekitar tahun 2010 an, budaya ngopi lintas generasi telah membentuk komunitasnya dan menjadi ajang bergairahnya bisnis Warkop, Kedai Kopi, Café dan serangan gerai kopi modern.

Awal tahun 2017, bersama istri mulai mengamati filosofi dan distribusi bisnis kopi ternyata masih terbuka kesempatan berwirausaha. Ya, perlu menciptakan platform bisnis komunitas penikmat kopi. Ternyata saya mendapatkan sebuat istilah “Kopi yang baik akan selalu menemukan penikmatnya” (Mokhabika; 10 April 2017).






Kami mulai memikirkan alur persiapan inovasi kemasan dan branding. Wah, sungguh ini perlu di endoser ya.  Karena "Deplok Itu bikin Plong" saya dan istri langsung bergerak cepat mempersiapkan bagaimana Kopi Indonesia mendapatkan kedaulatannya. Ingat kita sebagai negara penghasil kopi nomer 3 terbesar di dunia dengan jumlah variatas kopi unggulan setiap daerah.

Inilah bentuk apresiasi saya dan istri membumikan setiap rasa cinta, aroma, dan karisma kedaualatan Kopi Indonesia. Dengan wajah baru penyajian secara tradisional “deplok “. Di mulai dari Pacitan, tanah kelahiran Presiden ke-6 RI Bapak. Dr. Susilo Bambang Yudoyono kami memproduksi Kopi Deplok Pacitan.

Terima atas keberkahan sang pencipta kepada bumi Indonesia
Terima kasih istri ku engkau mengajarkaku kecintaan, kesegaran dan kenikmatan kopi

I Love Coffee

La Mema Parandy
CEO PapaLame Coffee


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar