1. Secangkir kopi tanpa gula
memiliki kandungan 2 kcal energi, 0,28 g protein dan 0,05 g lemak. Kopi juga
menyediakan kalium, kalsium, magnesium dan natrium. Kalium adalah mineral
terbanyak dengan konsentrasi 116 mg/cangkir. Beberapa jenis vitamin juga terkandung
dalam kopi, antara lain tiamin, riboflavin, niasin dan asam folat.
2. Secangkir kopi mengandung
sekitar 95 mg kafein. Kopi robusta memiliki kadar kafein sekitar 1,9%,
sedangkan pada kopi arabika sekitar 1 %. Kadar kafein mengalami penurunan
sebanyak 24% akibat penyangraian.
3. Kopi yang rendah kafein
diperoleh melalui proses dekafeinasi. Proses ini menghilangkan sebagian besar
kafein dalam kopi dan menghasilkan minuman kopi dengan kadar kafein 1 mg per
100 g sajian
4. Biji kopi juga mengandung
senyawa polifenol berupa asam klorogenat. Kopi yang memiliki kadar asam
klorogenat yang tinggi biasanya citarasanya kurang baik. Penyangraian merusak
asam klorogenat dan mengubahnya menjadi senyawa dengan citarasa pahit dan getir
.
5. Kafein memicu tekanan
darah tinggi, namun kopi belum tentu menyebabkan hipertensi. Tekanan darah
orang yang meminum kopi memang meningkat, namun peningkatannya lebih rendah
dari orang yang meminum tablet kafein. Corti et al. (2002) mengungkapkan penggemar
kopi umumnya telah beradaptasi terhadap efek hipertensi.
6. Kafein dalam kopi dapat
mengganggu keseimbangan kalsium dalam tubuh, namun hal ini berlaku bagi orang
yang asupan kalsium hariannya rendah (Heaney, 2002). Wanita dengan asupan
kalsium harian rendah (<700 mg/hari) tidak disarankan meminum lebih dari
empat cangkir kopi per hari (Hallström et al., 2006).
7. Kafein dalam kopi
merangsang produksi asam lambung dan pepsin serta memicu nyeri ulu hati, namun
hal ini berlaku juga dengan kafein dari sumber lainnya misalnya buah kola.
Menariknya, senyawa kopi juga mengandung senyawa N-methylpyridinium (NMP) yang
menstabilkan keasaman lambung.
8. Kafein juga berpengaruh
terhadap pelepasan hormon β-endorfin. Endorphin diketahui meningkatkan imunitas
tubuh, menghilangkan rasa sakit, memperlambat proses penuaan dan menurunkan
tingkat stres.
9. Minum kopi berkafein 30
menit sebelum tidur, dapat membuat anda lebih segar dengan tidur yang lebih
singkat.
10. Kafein bagi wanita
hamil, dapat meningkatkan risiko keguguran, kematian bayi, dan berat lahir
rendah. Wanita hamil disarankan untuk mengatur asupan kafeinnya, baik dari
kopi, kola atau sumber lainnya, tidak lebih dari 182 mg/hari atau setara dengan
tiga cangkir kopi dalam sehari.
11. Kafein yang dikonsumsi
ibu menyusui, dapat terdistribusi ke ASI dalam kurun waktu lima belas menit.
Diperkirakan, bayi yang disusui akan menerima kafein sebanyak 0,06-1,5% kafein
yang dikonsumsi ibunya.
12. Kafein digunakan dalam
formulasi obat migrain dikombinasikan bersama asetaminofen dan aspirin . Kafein
yang dikombinasikan dengan ergotamin, menyebabkan ergotamin lebih mudah diserap
dan lebih efektif.
13. Kafein banyak digunakan
dalam formula obat pelangsing, karena memiliki sifat termogenesis. Sifat
termogenesis dapat meningkatkan panas tubuh yang memicu tubuh untuk menggunakan
lebih banyak energi sehingga berat badan dapat berkurang. Selain itu,
penelitian mengungkapkan bahwa asam khlorogenat dapat menghambat penyerapan
glukosa dan lemak.
14. Senyawa kelompok santin
sering digunakan untuk menghilangkan selulit. Kafein yang dioleskan pada kulit
berselulit, diharpakan dapat memicu lemak di lapisan bawah kulit agar dapat
meluruh. (Avram, 2004). Terapi anti-selulit dengan kopi merupakan layanan
populer di salon kecantikan.
15. Selain asam klorogenat,
kopi juga merupakan sumber trigonelin. Latihan fisik yang diiringi dengan
asupan trigonelin dapat menghasilkan massa otot yang lebih tinggi dan tidak
mudah menyusut.
Avram, M. M. (2004).
Cellulite: a review of its physiology and treatment. Journal of Cosmetic and
Laser Therapy, 6(4), 181-185.
Corti, R., Binggeli, C.,
Sudano, I., Spieker, L., Hänseler, E., Ruschitzka, F., Chaplin, W. F., Lüscher,
T. F., & Noll, G. (2002). Coffee acutely increases sympathetic nerve
activity and blood pressure independently of caffeine content role of habitual
versus nonhabitual drinking. Circulation, 106(23), 2935-2940.
Hallström, H., Wolk, A.,
Glynn, A., & Michaëlsson, K. (2006). Coffee, tea and caffeine consumption
in relation to osteoporotic fracture risk in a cohort of Swedish women.
Osteoporosis international, 17(7), 1055-1064.
Heaney, R. (2002). Effects
of caffeine on bone and the calcium economy. Food and Chemical Toxicology,
40(9), 1263-1270.
Sumber : http://iccri.net Saturday , 29 April 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar