Sabtu, 29 April 2017

Kopi

1. Secangkir kopi tanpa gula memiliki kandungan 2 kcal energi, 0,28 g protein dan 0,05 g lemak. Kopi juga menyediakan kalium, kalsium, magnesium dan natrium. Kalium adalah mineral terbanyak dengan konsentrasi 116 mg/cangkir. Beberapa jenis vitamin juga terkandung dalam kopi, antara lain tiamin, riboflavin, niasin dan asam folat.

2. Secangkir kopi mengandung sekitar 95 mg kafein. Kopi robusta memiliki kadar kafein sekitar 1,9%, sedangkan pada kopi arabika sekitar 1 %. Kadar kafein mengalami penurunan sebanyak 24% akibat penyangraian.

3. Kopi yang rendah kafein diperoleh melalui proses dekafeinasi. Proses ini menghilangkan sebagian besar kafein dalam kopi dan menghasilkan minuman kopi dengan kadar kafein 1 mg per 100 g sajian

4. Biji kopi juga mengandung senyawa polifenol berupa asam klorogenat. Kopi yang memiliki kadar asam klorogenat yang tinggi biasanya citarasanya kurang baik. Penyangraian merusak asam klorogenat dan mengubahnya menjadi senyawa dengan citarasa pahit dan getir .

5. Kafein memicu tekanan darah tinggi, namun kopi belum tentu menyebabkan hipertensi. Tekanan darah orang yang meminum kopi memang meningkat, namun peningkatannya lebih rendah dari orang yang meminum tablet kafein. Corti et al. (2002) mengungkapkan penggemar kopi umumnya telah beradaptasi terhadap efek hipertensi.

6. Kafein dalam kopi dapat mengganggu keseimbangan kalsium dalam tubuh, namun hal ini berlaku bagi orang yang asupan kalsium hariannya rendah (Heaney, 2002). Wanita dengan asupan kalsium harian rendah (<700 mg/hari) tidak disarankan meminum lebih dari empat cangkir kopi per hari (Hallström et al., 2006).

7. Kafein dalam kopi merangsang produksi asam lambung dan pepsin serta memicu nyeri ulu hati, namun hal ini berlaku juga dengan kafein dari sumber lainnya misalnya buah kola. Menariknya, senyawa kopi juga mengandung senyawa N-methylpyridinium (NMP) yang menstabilkan keasaman lambung.

8. Kafein juga berpengaruh terhadap pelepasan hormon β-endorfin. Endorphin diketahui meningkatkan imunitas tubuh, menghilangkan rasa sakit, memperlambat proses penuaan dan menurunkan tingkat stres.

9. Minum kopi berkafein 30 menit sebelum tidur, dapat membuat anda lebih segar dengan tidur yang lebih singkat.

10. Kafein bagi wanita hamil, dapat meningkatkan risiko keguguran, kematian bayi, dan berat lahir rendah. Wanita hamil disarankan untuk mengatur asupan kafeinnya, baik dari kopi, kola atau sumber lainnya, tidak lebih dari 182 mg/hari atau setara dengan tiga cangkir kopi dalam sehari.

11. Kafein yang dikonsumsi ibu menyusui, dapat terdistribusi ke ASI dalam kurun waktu lima belas menit. Diperkirakan, bayi yang disusui akan menerima kafein sebanyak 0,06-1,5% kafein yang dikonsumsi ibunya.

12. Kafein digunakan dalam formulasi obat migrain dikombinasikan bersama asetaminofen dan aspirin . Kafein yang dikombinasikan dengan ergotamin, menyebabkan ergotamin lebih mudah diserap dan lebih efektif.

13. Kafein banyak digunakan dalam formula obat pelangsing, karena memiliki sifat termogenesis. Sifat termogenesis dapat meningkatkan panas tubuh yang memicu tubuh untuk menggunakan lebih banyak energi sehingga berat badan dapat berkurang. Selain itu, penelitian mengungkapkan bahwa asam khlorogenat dapat menghambat penyerapan glukosa dan lemak.

14. Senyawa kelompok santin sering digunakan untuk menghilangkan selulit. Kafein yang dioleskan pada kulit berselulit, diharpakan dapat memicu lemak di lapisan bawah kulit agar dapat meluruh. (Avram, 2004). Terapi anti-selulit dengan kopi merupakan layanan populer di salon kecantikan.

15. Selain asam klorogenat, kopi juga merupakan sumber trigonelin. Latihan fisik yang diiringi dengan asupan trigonelin dapat menghasilkan massa otot yang lebih tinggi dan tidak mudah menyusut.


Avram, M. M. (2004). Cellulite: a review of its physiology and treatment. Journal of Cosmetic and Laser Therapy, 6(4), 181-185.
Corti, R., Binggeli, C., Sudano, I., Spieker, L., Hänseler, E., Ruschitzka, F., Chaplin, W. F., Lüscher, T. F., & Noll, G. (2002). Coffee acutely increases sympathetic nerve activity and blood pressure independently of caffeine content role of habitual versus nonhabitual drinking. Circulation, 106(23), 2935-2940.
Hallström, H., Wolk, A., Glynn, A., & Michaëlsson, K. (2006). Coffee, tea and caffeine consumption in relation to osteoporotic fracture risk in a cohort of Swedish women. Osteoporosis international, 17(7), 1055-1064.
Heaney, R. (2002). Effects of caffeine on bone and the calcium economy. Food and Chemical Toxicology, 40(9), 1263-1270.

Sumber : http://iccri.net  Saturday , 29 April 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar