Selasa, 03 September 2019

Seni dan "Taste", Bentengi Kopi Tradisional dari Gempuran Kopi Modern


JAKARTA, KOMPAS.com - Ngopi kini sudah menjadi salah satu tren gaya hidup, berbarengan dengan suburnya konsep-konsep kedai kopi yang semakin modern. Biji-biji kopi dalam negeri hingga lintas negara disajikan. Dipadukan dengan beragam rasa dan kreasi untuk racikan terbaik.  Tak hanya di Indonesia, meminum kopi pun menjadi tren di banyak belahan dunia. Salah satu artikel di laman Guardian.com edisi 26 Januari 2018 misalnya, membahas soal budaya minum teh di Rwanda, yang mulai bergeser ke budaya minum kopi. Rwanda, negara di Afrika bagian timur, dikenal sebagai negara peminum teh. Namun kini, seiring dengan tren minum kopi yang terus melebar, negara tersebut kini harus menggenjot produksi dan impor kopi untuk memenuhi permintaan pasar.

Sementara itu, dari situs Korea JoongAng Daily disebutkan, berdasarkan data Korea Customs Service (KCS), pasar kopi Korea untuk pertama kalinya menembus kisaran 11,7 triliun Won di 2017. Angka itu setara dengan sekitar 26,5 miliar gelas kopi disajikan tahun lalu di Korea, dengan rata-rata konsumsi 512 gelas per orang per tahun. Peluang besar industri kopi juga disinggung Presiden Joko Widodo saat membuka Konferensi 2018 Forum Rektor se-Indonesia di Auditorium AP Pettarani Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Kamis (15/2/2018). Menurut Presiden, sudah saatnya Indonesia jeli melihat peluang dan membuka jurusan atau fakultas yang dapat menyerap tenaga kerja penghasil kopi.

Kopi tradisional Indonesia Lantas, di tengah gempuran tren kopi modern, bagaimana dengan kopi-kopi tradisional Indonesia? 

Johny Poluan, pemilik kedai kopi Kwang Koan atau yang lebih populer dengan Kopi Johny, di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara, meyakini kopi-kopi tradisional masih punya tempat di hati masyarakat. Kopi Johny menjadi salah satu kedai yang menyajikan kopi dengan cara tradisional di tengah banyaknya kedai-kedai kopi modern. Mutu dan pelayanan menurut Johny akan menjadi kunci. Selama mutu kopi terjaga, ia yakin eksistensi akan tetap mengikuti. "Yang kami jual taste, bukan suasana. Kalau suasana, sepanjang tempatnya dingin, ada AC, kursi empuk, pengunjung datang," ujar Johny kepada KOMPAS Lifestyle, Sabtu (17/2/2018). "Tapi kalau bicara taste, tidak ada tempat parkir, sejauh apa pun, orang akan datang. Makanya saya yakin masih bisa bertahan, masih bisa eksis." Kedai "pusat" Kopi Johny berlokasi di Jalan Kopyor Raya blok Q1 No. 1, Kelapa Gading. Lokasi ini terbilang jauh dari pusat kota, dan berada si tengah komplek perumahan. Tapi, lokasi seperti itu tak membuat Kopi Johny sepi pelanggan. Lalu lintas jalanan depan kedai justru beberapa kali kerap tersendat, karena pengunjung yang membludak.

Gaya tradisional dibawa Johny dari orangtuanya -sebagai "resep" turunan. Ia menyadari, menjamurnya kedai kopi modern dengan mesin kopi yang semakin canggih, bukanlah untuk dilawan. Sehingga, untuk tetap eksis, ia harus tampil dengan gaya sendiri. Baca: Kisah Kedai Kopi Johny, Kian Ramai karena Ulah Hotman Paris "Banyak orang punya mesin (kopi) mewah-mewah dan mahal-mahal. Saya mau coba tampil dengan gaya sendiri yaitu gaya tradisional di mana tidak banyak lagi orang yang masuk ke dunia itu," tutur dia. Seni Menyajikan kopi tradisional baginya adalah sebuah seni. Salah satu yang menjadi ciri khas adalah menyesuaikan rasa dengan selera alias custom.

"Seni dari cara tradisional ini bagaimana kita menyajikan sesuai selera karena yang kami sajikan custom," ucapnya. Memang, Johny mengakui, kelemahan kopi dengan penyajian tradisional adalah tidak memiliki standardisasi. Kopi yang diminum hari ini belum tentu sama seperti besok. Berbeda dengan kopi yang disajikan dengan cara modern dengan mesin. Rasanya akan cenderung konsisten, karena diatur sedemikian rupa dengan mesin. Sedangkan untuk kopi tradisional, ia mesti jeli dalam menyajikan kopi. Sebab, menurut dia, kopi memiliki tingkat kenikmatan. Bagaimana kopi bisa dirasakan dengan penyajian panas, tanpa gula, dan murni kopi hitam. "Karena itu, basic untuk mengetahui karakter dari kopi itu. Orang minum kopi itu panas." "Yang sekarang muncul orang minum kopi dingin, itu anak muda punya gaya jaman sekarang. Kopi dingin, pakai es krim pula," kata Johny. Kunci rasa dari kopi, sambung Johny adalah proses roasting. Orang saat ini tak lagi bicara soal arabika atau robusta, melainkan asal biji kopi. Arabika dianggap memiliki kandungan cita rasa yang kaya, sedangkan robusta memiliki kadar asam yang tinggi. Johny memilih biji kopi Toraja untuk kopinya. Pada awal membuka kedai kopi, ia menggunakan tiga jenis kopi. Selain Toraja, ia juga menggunakan biji kopi Bali dan Lampung. Di kedai Kopi Johny yang tak terlalu luas, perbincangan akrab kerap terbangun. Johny melayani sendiri pengunjungnya, terutama di Kopi Johny cabang pusat. Waktunya padat untuk membuat sendiri kopi-kopi yang disajikannya.

Di sela waktu melayani pengunjung, ia kerap ikut berbincang dengan pelanggan. Kesemptan mengobrol dengan pelanggan menjadi bagian dari risetnya. Kendati demikian, hal yang dibincangkan bukan soal kopi yang dibuatnya, tapi tentang topik lain. Misalnya otomotif atau musik. Sebab, banyak komunitas yang rutin berkunjung ke Kopi Johny. "Jadi saya tidak bicara bisnis, bicara hobi saja dengan mereka," kata pria asal Manado itu. Johny mengaku tak pernah bertanya soal kopinya ke pelanggan. Sebab, jika ia bertanya pelanggan akan cenderung mengatakan enak meskipun mereka merasa tidak suka. Kritik dan masukan spontan adalah yang dibutuhkannya. Masukan yang diberikan menurut dia sangat penting untuk semakin memerbaiki kualitas dan pelayanan. "Saya tidak mau bertanya hanya untuk mendapatkan pujian. Yang saya butuhkan betul-betul kritikan, masukan untuk mengubah saya punya kualitas dan pelayanan," kata dia. Interaksi rupanya menjadi salah satu ciri khas yang dimiliki kedai-kedai kopi tradisional dan disukai oleh sejumlah penikmat kopi. Putri (24), misalnya, ia lebih senang datang ke kedai-kedai kopi yang bukan gerai besar dan tersebar di mana-mana.

Pengalaman menjadi salah satu "poin" yang dicarinya. Mulai dari penamaan kopi yang unik, kesempatan ngobrol dengan barista atau pemilik kedai kopi, hingga cerita-cerita unik yang didapatkannya. "Kadang ceritanya unik. Ada yang lagi bepergian, nyasar, terus nemu tempat yang kayaknya bisa jadi lokasi usaha, lalu bikin deh kedai kopi," kata Putri. "Ada juga yang sarjana Geologi dan sebenarnya bisa cepat kaya kalau kerja sesuai jurusan waktu kuliah, tapi karena passionate sama kopi ditekunin buka usaha walaupun modalnya gede, dan lama balik untung," tambah dia. Penikmat kopi lainnya, Eko (28) mengaku merasakan sensasi tersendiri pada cara minum tradisional. Menurut dia, cara penyajian kopi modern kadang terlalu banyak air. Selain itu, banyak yang tidak menggunakan kopi lokal. Menjamurnya kedai kopi modern menurut Eko, justru bisa membuat penikmat kopi bosan karena cenderung menjual tempat ketimbang kopi yang enak. "Kopi tradisional lebih ada sensasinya dibandingkan minum kopi modern. Kopi lokal lebih punya rasa," ucap Eko. Sementara itu, Gilang (25) mengaku lebih suka kopi tradisional karena memiliki beragam cita rasa dan penyajian manual (manual brew) yang bisa dipilih sesuai selera. Interaksi dengan pemilih kedai, barista atau sesama pengunjung yang lebih intens di kedai kopi tradisional juga menjadi nilai tambah tersendiri. Meskipun hal sama juga bisa dilakukan di beberapa kedai kopi modern, namun menurut dia tetap ada perbedaan. Meski saat ini kedai-kedai kopi modern terus bermunculan, Gilang meyakini kedai kopi tradisional akan tetap memiliki tempat di hati masyarakat. "Kedai kopi tradisional masih mempunyai tempat kok di masyarakat." "Justru pengolahan secara tradisional itu yang menjadi ciri khas. Itu bisa menjadi salah satu objek wisata di daerah," kata Gilang.


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Seni dan "Taste", Bentengi Kopi Tradisional dari Gempuran Kopi Modern", https://lifestyle.kompas.com/read/2018/02/19/120000920/seni-dan-taste-bentengi-kopi-tradisional-dari-gempuran-kopi-modern?page=all.
Penulis : Nabilla Tashandra
Editor : Glori K. Wadrianto

Sabtu, 29 April 2017

Kopi

1. Secangkir kopi tanpa gula memiliki kandungan 2 kcal energi, 0,28 g protein dan 0,05 g lemak. Kopi juga menyediakan kalium, kalsium, magnesium dan natrium. Kalium adalah mineral terbanyak dengan konsentrasi 116 mg/cangkir. Beberapa jenis vitamin juga terkandung dalam kopi, antara lain tiamin, riboflavin, niasin dan asam folat.

2. Secangkir kopi mengandung sekitar 95 mg kafein. Kopi robusta memiliki kadar kafein sekitar 1,9%, sedangkan pada kopi arabika sekitar 1 %. Kadar kafein mengalami penurunan sebanyak 24% akibat penyangraian.

3. Kopi yang rendah kafein diperoleh melalui proses dekafeinasi. Proses ini menghilangkan sebagian besar kafein dalam kopi dan menghasilkan minuman kopi dengan kadar kafein 1 mg per 100 g sajian

4. Biji kopi juga mengandung senyawa polifenol berupa asam klorogenat. Kopi yang memiliki kadar asam klorogenat yang tinggi biasanya citarasanya kurang baik. Penyangraian merusak asam klorogenat dan mengubahnya menjadi senyawa dengan citarasa pahit dan getir .

5. Kafein memicu tekanan darah tinggi, namun kopi belum tentu menyebabkan hipertensi. Tekanan darah orang yang meminum kopi memang meningkat, namun peningkatannya lebih rendah dari orang yang meminum tablet kafein. Corti et al. (2002) mengungkapkan penggemar kopi umumnya telah beradaptasi terhadap efek hipertensi.

6. Kafein dalam kopi dapat mengganggu keseimbangan kalsium dalam tubuh, namun hal ini berlaku bagi orang yang asupan kalsium hariannya rendah (Heaney, 2002). Wanita dengan asupan kalsium harian rendah (<700 mg/hari) tidak disarankan meminum lebih dari empat cangkir kopi per hari (Hallström et al., 2006).

7. Kafein dalam kopi merangsang produksi asam lambung dan pepsin serta memicu nyeri ulu hati, namun hal ini berlaku juga dengan kafein dari sumber lainnya misalnya buah kola. Menariknya, senyawa kopi juga mengandung senyawa N-methylpyridinium (NMP) yang menstabilkan keasaman lambung.

8. Kafein juga berpengaruh terhadap pelepasan hormon β-endorfin. Endorphin diketahui meningkatkan imunitas tubuh, menghilangkan rasa sakit, memperlambat proses penuaan dan menurunkan tingkat stres.

9. Minum kopi berkafein 30 menit sebelum tidur, dapat membuat anda lebih segar dengan tidur yang lebih singkat.

10. Kafein bagi wanita hamil, dapat meningkatkan risiko keguguran, kematian bayi, dan berat lahir rendah. Wanita hamil disarankan untuk mengatur asupan kafeinnya, baik dari kopi, kola atau sumber lainnya, tidak lebih dari 182 mg/hari atau setara dengan tiga cangkir kopi dalam sehari.

11. Kafein yang dikonsumsi ibu menyusui, dapat terdistribusi ke ASI dalam kurun waktu lima belas menit. Diperkirakan, bayi yang disusui akan menerima kafein sebanyak 0,06-1,5% kafein yang dikonsumsi ibunya.

12. Kafein digunakan dalam formulasi obat migrain dikombinasikan bersama asetaminofen dan aspirin . Kafein yang dikombinasikan dengan ergotamin, menyebabkan ergotamin lebih mudah diserap dan lebih efektif.

13. Kafein banyak digunakan dalam formula obat pelangsing, karena memiliki sifat termogenesis. Sifat termogenesis dapat meningkatkan panas tubuh yang memicu tubuh untuk menggunakan lebih banyak energi sehingga berat badan dapat berkurang. Selain itu, penelitian mengungkapkan bahwa asam khlorogenat dapat menghambat penyerapan glukosa dan lemak.

14. Senyawa kelompok santin sering digunakan untuk menghilangkan selulit. Kafein yang dioleskan pada kulit berselulit, diharpakan dapat memicu lemak di lapisan bawah kulit agar dapat meluruh. (Avram, 2004). Terapi anti-selulit dengan kopi merupakan layanan populer di salon kecantikan.

15. Selain asam klorogenat, kopi juga merupakan sumber trigonelin. Latihan fisik yang diiringi dengan asupan trigonelin dapat menghasilkan massa otot yang lebih tinggi dan tidak mudah menyusut.


Avram, M. M. (2004). Cellulite: a review of its physiology and treatment. Journal of Cosmetic and Laser Therapy, 6(4), 181-185.
Corti, R., Binggeli, C., Sudano, I., Spieker, L., Hänseler, E., Ruschitzka, F., Chaplin, W. F., Lüscher, T. F., & Noll, G. (2002). Coffee acutely increases sympathetic nerve activity and blood pressure independently of caffeine content role of habitual versus nonhabitual drinking. Circulation, 106(23), 2935-2940.
Hallström, H., Wolk, A., Glynn, A., & Michaëlsson, K. (2006). Coffee, tea and caffeine consumption in relation to osteoporotic fracture risk in a cohort of Swedish women. Osteoporosis international, 17(7), 1055-1064.
Heaney, R. (2002). Effects of caffeine on bone and the calcium economy. Food and Chemical Toxicology, 40(9), 1263-1270.

Sumber : http://iccri.net  Saturday , 29 April 2017

Konvensi Kopi Teh dan Cokelat Indonesia 2017 Segera Digelar

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Konvensi Kopi Teh dan Cokelat Indonesia (KKTC) 2017 segera digelar selama 4 hari, dari 18-21 Mei 2017, di La-Piazza Kelapa Gading Jakarta utara. Konvensi Kopi Teh dan Cokelat Indonesia merupakan wadah bertemunya antara petani, pengusaha dan pihak pemerintah demi meningkatkan mutu dan penjualan produk kopi, teh dan cokelat yang ada di nusantara.

Pihak penyelenggara PT. Kayoemi Brothers bekerjasama dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Pariwisata, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RepubIik Indonesia berkeinginan meningkatkan kualitas dan produktivitas kopi, teh dan kakao yang ada di Indonesia.

Menurut Ketua Pelaksana KKTC 2017, Kuntari Sapta Nirwandar, konvensi ini diharapkan menjadi etalase menjanjikan bagi pengusaha lokal dan investor. “Tentu saja bagi pebisnis yang terjun dibidang perkebunan, pengolahan, industri hilir, serta pedagangan global (trading) di tiga produk andalan ekspor ini,” ucapnya.

Selain itu, pengunjung dan peserta konvensi juga dapat mengikuti seminar dan talkshow bagaimana cara mengolah produk menjadi layak jual. Kemudian ada pula diskusi peningkatan hasil dan penjualan, serta tidak ketinggalan tips bagaimana cara meningkatkan kunjungan wisata bagi daerah penghasil kopi, teh dan kakao dari Kementerian Pariwisata RI.

Pengunjung juga disuguhi pameran produk kopi, teh dan kakao dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia, serta ada warung kopi yang menyuguhkan kopi secara gratis setiap harinya. Selama 4 hari, pengunjung juga dapat menyaksikan berbagai macam kegiatan diantaranya workshop kopi dari AEKI, talkshow mengenal teh Indonesia, dan talkshow dari Dewan Kakao Indonesia.

Sumber : http://www.jitunews.com

Meramu Kopi Deplok Pacitan sebagai nilai tambah masyarakat



Cerita Tentang Kopi Deplok


Jumat, 28 April 2017

JENIS JENIS KOPI

 
 
Secarah umum dikenal 4 jenis kopi yaitu Kopi Arabika (Coffee Arabica), Kopi Liberika (Coffee Liberica), Kopi Robusta (Coffee Cannephora), Kopi Excelsa (Coffee Dewevrei).Diantara keempat ini best of the best nya adalah kopi Liberika.
 
Di Indonesia menghasilkan 6 dari 7 jenis Kopi Arabika  yaitu Gayo (Aceh), Mandaling (Sumut),Kintamani (Bali), Mangkuraja (Bengkulu),Jawa dan Kalosi (Toraja). Sementara satu jenis lainnya dihasilkan di Jamaica yang dikenal sebagai Blue Montain.

Jenis Arabika yang termasuk langka adalah speciality arabica dan jenis lainnya adalah kopi Luwak.
Syarat tumbuhnya tanaman kopi arabika adalah pada ketinggian 750-1500 dpl dengan suhu 15-18 derajat celcius. Kopi liberika tumbuh didaerah 500 - 1500 dpl dengan suhu 17 sampai 20 derajat celcius dan kopi robusta pada ketinggian 400-1000 dpl dengan suhu 18-24 derajat celcius.


KOPI ARABIKA.
Kopi Arabika merupakan kopi tradisional yang rasanya dianggap paling enak oleh para penikmat kopi. Biji kopi arabika memiliki cir ciri ukuran biji yang lebih kecil dibandingkan biji kopi jenis robusta,kandungan kafein yang lebih rendah,rasa dan aroma yang lebih  nikmat serta harga yang lebih mahal.

Kopi arabika pertama dideskripsikan oleh Linnaeus pada tahun 1753. Varietas terbaik yang dikenal adalah typica dan bourbon dan dari jenis ini beraneka ragam strain telah dikembangkan.
Kopi arabica (Coffee arabica)
Nama ilmiah Coffee arabica L
Klasifikasi :
Devisi spermatophyta
Sub devisi angiospermae
Kelas dicotyledoneae
Bangsa rubiales
Suku rubiaceae
Marga coffea
Spesies coffea arabica L
Ciri ciri :
Habitus : perdu,tinggi 2 - 3 meter
Batang : tegak,bulat,percabangan monopodial,permukaan kasar.
Daun : tunggal,berhadapan,lonjong,panjang 8-15 cm,lebar 4-7 cm.
Bunga:majemuk,bentuk payung,kelopak lonjong,lima helai,panjang 3 mm,hijau,tangkai benang sari berlekatan.
Buah:batu,bulat telur,diameter 0,5-1 cm,masih muda hijau setelah tua merah.
Biji:berbentuk bola.
Akar :tunggang,kuning muda
 
 
VARIETAS KOPI ARABICA

Beberapa varietas yang terkenal meliputi :
* Kopi Kolombia (Colombian coffe) - pertama kali diperkenalkan  di kolombia pada awal tahunn 1800. Saat ini kultivar Maragogype,Caturra,Typica dan Bourbon ditanam dinegeri ini. Jika langsung di goreng kopi ini memiliki rasa dan aroma yang kuat.
 
* Colombian Milds - varietas ini termasuk kopi dari Kolombia, Kenya dan Tanzania. Semuanya adalah jenis kopi arabica yang telah dicuci.
* Guatemala Huehuetenango -ditanam 5000 kaki di bagian utara Guatemala.
* Ethiiopian Harrar - dari Ethiopia
* Hawaiian Kona Coffee - dari Hawai
* Jamaican Blue Mountain Coffee - dari Jamaica.
* Kopi Jawa
* Kenyan.
* Mexico.
* Mocha - kopi dari Yemen.
* Santos - dari Brasil.
* Sumatra.
* Sulawesi Toraja Kalosi.
* Tanzania Peaberry.
* Uganda.

 
KOPI ROBUSTA
Kopi Robusta memiliki ukuran biji kopi yang besar, bentuknya oval,tinggi kafein dan memiliki aroma yang kurang harum.
 
Robusta dapatt dikembangkan dalam lingkungan dimana arabika tidak akan tumbuh..
Kopi Robusta (Coffee robusta Lindl ex DeWild)
Nama Ilmiah  Coffee robusta lindl ex dewild.
Klasifikasi :
Divisi Spermatophyta
Subdivisi Angiospermae
Kelas Dicotyledoneae
Bangsa Rubiales
Suku Rubiaceae
Marga Coffea
Ciri ciri :
Habitus : perdu,tahunan,tinggi 5 meter.
Batang : Berkayu,keras,putih keabuabuan.
Daun : tunggal,bulat telur,panjang 5-15 cm,lebar 4-6.5 cm.
Bunga : majemuk,mahkota berbentuk bintang
Buah : diameter 5 mm,warna hijau setelah tua kemerahan.
Biji : bulat telur, berbelah dua,keras
Akar: tunggang,kuning muda.

* VARIETAS KOPI ROBUSTA
Variestas kopi robusta yang terkenal adala Kopi Luwak dari Indonesia dan Kape Alamid dari Filipina.

 
KOPI LIBERIKA
Kopi Liberika adalah jenis kopi yang berasal dari Liberia, Afrika Barat. Kopi ini dapat tumbuh hingga 9 meter. Kopi ini didatangkan ke Indonesia jaman dulu untuk menggantikan kopi arabika yang terserang hama.
Kopi ini memiliki beberapa karakteristik :
* Ukurannya lebih besar dari kopi arabika dan robusta.
* Berbuah sepanjang tahun
* Kualitas buah relatif rendah.
* Ukuran buah tidak merata.
* Tumbuh baik didataran rendah.

Varietas yang pernah didatangkan ke Indonesia antara lain adalah Ardoniana dan Durvei.

Diambil dari; http://penikmatkopi.weebly.com

 

Macam kopi berdasarkan cara penyajian


Banyak cara untuk menyajikan kopi. Dari cara penyajian itu, munculah berbagai macam kopi sesuai dengan cara penyajian. Salah satunya adalah kopi tubruk yang sangat populer. Kopi tubruk adalah kopi dengan cara penyajian diseduh air mendidih.

Ada kopi jos atau kopi arang , yaitu kopi yang dalam penyajian dicelup dengan arang yang membara sehingga mengeluarkan bunyi jos. Sedangkan kopi susu karena penyajian kopi dicampur dengan susu.

Berikut ini adalah berbagai macam kopi berdasarkan cara penyajian yang diadopsi dari berbagai negara,  terutama Italia.

Espresso

Biasa di sebut normale. Di Italia Espresso merupakan jenis kopi yang sangat populer. Penyajian Espresso adalah air kopi murni dengan warna hitam dan kental yang biasanya menjadi bahan dasar pembuatan jenis kopi lain.

Espresso merupakan teknik penyajian kopi khas Italia. Di Indonesia, tradisi minum kopi sudah cukup lama bahkan tua, yaitu kurang lebih 300 tahun. Tapi entah mengapa di daerah urban atau kota besar dan hampir semua kafe mengikuti cara penyajian espresso. Sementara kebanyakan orang Indonesia hanya mengenal dua jenis penyajian kopi, yaitu kopi tubruk dan kopi instan.

Penyajian kopi Espresso adalah sepertiga atau kurang dari setengah cangkir kecil. Biasa diminum dengan atau tanpa gula.

Macam kopi berdasarkan cara penyajian

 

Machiato

Asal kata machiato adalah ternodai. Merupakan Espresso yang dicampurkan dengan sedikit susu atau busa panas. penyajian machiato sepertiga atau kurang dari setengah cangkir kecil. Kalau cangkirnya lebih besar namanya menjadi cappuccino.

 

Caffe Latte

Dalam bahasa Italia artinya kopi susu. Merupakan espresso yang ditambahkan dengan atau tiga kali takaran susu dari teko besar yang biasanya disediakan di bar.

 

Cappuccino

Merupakan Espresso yang ditambahkan susu panas yang dibusakan. Muniman classic untuk sarapan orang italia yang dipercaya lebih berat, komposisi terbaiknya terdiri dari sepertiga espresso, sepertiga susu panas dan sepertiga busa susu yang pekat.

penyajian dalam cangkir yang lebih besar dari susu cangkir espresso biasa. Biasanya diminum dengan gula.

 

Marachino

Marachino konon merupakan kopi khas Maroko yang mempunyai banyak penggemar di Milan. Sebenarnya merupakan espresso ditambah busa susu panas dan taburan coklat diatasnya. penyajian dalam cangkir kecil.

 

Kopi Tubruk

Secara umum, teknik minum kopi yang paling purba adalah merebus air panas dan menuangkannya ke dalam gelas atau cangkir berisi bubuk kopi. Diamkan beberapa menit, atau bisa diaduk langsung dan secara konvensional. Itulah kopi tubruk.

Setiap teknik penyajian kopi memang memengaruhi rasa. Salah satu kekhasan kopi tubruk adalah waktu ekstraksi kopi lebih lama, yaitu selama suhu air mampu mengekstraksikan bubuk kopi serta waktu kita menghabiskan kopinya. Karena hal itulah mengapa kadar kafein dari kopi tubruk lebih tinggi daripada espresso.

Karena waktu ekstraksi tetap berjalan itulah kadang rasa dan aroma kopi bisa tidak stabil. . Di pedesaan dan warung-warung kopi tradisional kopi tubruk tetap menjadi pilihan utama Namun dDi kafe-kafe kota besar, teknik penyajian sudah tidak hanya berpaku pada kopi tubruk.

Bagi sebagian orang, kopi tubruk mungkin sudah ketinggalan zaman. Namun jika kita melihat bahwa minum kopi tidak sekadar minum saja, melainkan membicarakan tradisi, tentu akan jadi lain lagi melihat fenomena kopi tubruk.

Meski begitu, proses icip-coba atau lebih dikenal bahasa Inggrisnya, cupping, menggunakan metode tubruk. Jadi, bisa disimpulkan, untuk lebih komprehensif dan holistik dalam mengenal karakter kopi, baik itu aroma, rasa, kepekatan, jejak rasa di lidah dan rongga mulut, keseimbangan karakter, dll, metode tubruk tetap dijadikan pilihan.

Menikmati kopi adalah hal pribadi. Dalam arti nikmat atau tidaknya kopi yang kita minum bergantung pada selera. Tidak ada kebenaran tunggal bagaimana kita menikmati karakter kopi.
karena itu sangat disayangkan jika kopi tubruk dianggap sebagai teknik penyajian kopi yang tidak begitu baik atau bagus, mengingat selera lidah dan juga kultur merupakan hal yang tidak seragam.
Di Italia ada espresso. Pada masa Perang Dunia II, para tentara Amerika yang tidak cocok dengan espresso meminta kepada para barista atau penyaji kopi untuk menambahkan air panas di kopi espresso mereka. Akhirnya, muncullah nama Americano. Beda lidah, beda cara dalam menikmati sesuatu rasa minuman, dalam hal ini kopi.

Di Indonesia, kopi tubruk adalah identitas. Melalui kopi tubruk itu juga kita bisa melacak bagaimana orang-orang di Indonesia sejak kurang lebih 300 tahun lalu merayakan tradisi minum kopi. Kopi tubruk adalah monumen sejarah kopi di Indonesia.

Diambil dari: http://dekuliner.com

 

Senin, 17 April 2017

Secangkir kopi hitam mampu berikan 10 manfaat manis ini

Merdeka.com - Kopi merupakan salah satu minuman yang paling populer di dunia. Bahkan bisa dibilang kopi lebih populer dibandingkan dengan teh.

Kandungan kafein di dalam kopi membuat minuman ini tinggi akan manfaat sehat seperti membantu meningkatkan memori, meningkatkan metabolisme yang membantu penurunan berat badan, dan yang paling penting mampu membuat tubuh Anda tetap fit.

Karena kopi tinggi akan manfaat sehat, maka para ahli kesehatan pun menyarankan agar Anda minum kopi tidak dengan gula. Memang akan berasa pahit, namun ternyata minum kopi pahit bermanfaat untuk kesehatan seperti berikut ini.

Meningkatkan memori
Minum kopi hitam ternyata bermanfaat untuk meningkatkan memori Anda. Sebab kafein di dalamnya bermanfaat untuk mengaktifkan saraf dalam otak. Sehingga selain menguatkan memori juga dapat mencegah demensia.

Membuat Anda cerdas
Selain mampu meningkatkan memori, minum kopi hitam juga dapat membuat Anda cerdas. Hal ini disebabkan karena kafein adalah stimulan psikoaktif yang bereaksi dengan tubuh dan dapat meningkatkan mood, energi, serta fungsi kognitif Anda.

Membersihkan pencernaan
Kopi merupakan minuman yang bersifat diuretik sehingga dapat membuat Anda sering mengalami buang air kecil. Oleh karena itu minum kopi pahit dapat membantu membersihkan pencernaan Anda dengan cara membuang racun dan bakteri dalam perut serta saluran kencing. 

Menurunkan berat badanSalah satu manfaat terbaik dari kopi tanpa gula adalah membantu dalam menurunkan berat badan dengan cepat. Sebab kopi pahit dapat meningkatkan metabolisme dalam tubuh sebanyak 50%. Minum kopi hitam pun dapat membakar timbunan lemak dalam perut.

Menguatkan jantung
Tahukah Anda bahwa minum kopi hitam dapat menguatkan jantung Anda? Hal ini disebabkan karena kopi mampu mengurangi tingkat peradangan dalam tubuh sehingga dapat mengurangi risiko penyakit kardiovaskular dan membuat jantung Anda kuat.

Menguatkan tubuh
Kopi adalah minuman yang tinggi akan zat antioksidan. Secangkir kopi mengandung vitamin B2, B3, dan B5 serta mangan, magnesium, dan kalium. Semua nutrisi tersebut bermanfaat untuk menguatkan dan memberikan suntikan energi pada tubuh.

Mengurangi risiko diabetes
Minum kopi tanpa gula ternyata bermanfaat untuk menurunkan risiko diabetes tipe 2. Jadi, jika Anda memiliki garis keturunan yang menderita diabetes sebaiknya minum kopi hitam secara rutin.

Mencegah kanker
Ucapkan selama tinggal pada risiko kanker dengan minum dua cangkir kopi hitam tanpa gula. Hal ini disebabkan karena kopi mengandung sifat anti kanker yang membantu menurunkan risiko kanker kolorektal dan kanker hati hingga 40%.

Memperpanjang usia
Salah satu manfaat terbaik dari minum kopi tanpa gula adalah dapat menjaga pikiran dan tubuh Anda supaya tetap muda. Bahkan minum kopi hitam dua kali sehari bisa mencegah penyakit Parkinson sebab kafein dapat meningkatkan kadar dopamin dalam tubuh.

Meningkatkan mood
Ingin meningkatkan mood dengan cepat? Minumlah secangkir kopi hitam. Selain dapat meningkatkan mood, minum kopi hitam juga menjadi cara yang sehat untuk melawan depresi. [feb]

diambil dari : https://www.merdeka.com

Kamis, 13 April 2017

Sejarah Kopi di Indonesia


Sejarah kopi di Indonesia dimulai pada tahun 1696 ketika Belanda membawa kopi dari Malabar, India, ke Jawa. Mereka membudidayakan tanaman kopi tersebut di Kedawung, sebuah perkebunan yang terletak dekat Batavia. Namun upaya ini gagal kerena tanaman tersebut rusak oleh gempa bumi dan banjir.

Upaya kedua dilakukan pada tahun 1699 dengan mendatangkan stek pohon kopi dari Malabar. Pada tahun 1706 sampel kopi yang dihasilkan dari tanaman di Jawa dikirim ke negeri Belanda untuk diteliti di Kebun Raya Amsterdam. Hasilnya sukses besar, kopi yang dihasilkan memiliki kualitas yang sangat baik. Selanjutnya tanaman kopi ini dijadikan bibit bagi seluruh perkebunan yang dikembangkan di Indonesia. Belanda pun memperluas areal budidaya kopi ke Sumatera, Sulawesi, Bali, Timor dan pulau-pulau lainnya di Indonesia.

Pada tahun 1878 terjadi tragedi yang memilukan. Hampir seluruh perkebunan kopi yang ada di Indonesia terutama di dataran rendah rusak terserang penyakit karat daun atau Hemileia vastatrix (HV). Kala itu semua tanaman kopi yang ada di Indonesia merupakan jenis Arabika (Coffea arabica). Untuk menanggulanginya, Belanda mendatangkan spesies kopi liberika (Coffea liberica) yang diperkirakan lebih tahan terhadap penyakit karat daun.

Sampai beberapa tahun lamanya, kopi liberika menggantikan kopi arabika di perkebunan dataran rendah. Di pasar Eropa kopi liberika saat itu dihargai sama dengan arabika. Namun rupanya tanaman kopi liberika juga mengalami hal yang sama, rusak terserang karat daun. Kemudian pada tahun 1907 Belanda mendatangkan spesies lain yakni kopi robusta (Coffea canephora). Usaha kali ini berhasil, hingga saat ini perkebunan-perkebunan kopi robusta yang ada di dataran rendah bisa bertahan.
Pasca kemerdekaan Indonesia tahun 1945, seluruh perkebunan kopi Belanda yang ada di Indonesia di nasionalisasi. Sejak itu Belanda tidak lagi menjadi pemasok kopi dunia.

Perdagangan biji kopi

 

Berdasarkan catatan International Coffee Organization (ICO), terdapat 4 jenis kopi yang diperdagangkan secara global yakni kopi arabika, kopi robusta, kopi liberika dan kopi excelsa.7 Keempat jenis kopi tersebut berasal dari 3 spesies tanaman kopi. Arabica dihasilkan oleh tanaman Coffea arabica. Robusta dihasilkan tanaman Coffea canephora. Sedangkan liberika dan excelsa dihasilkan oleh tanaman Coffea liberica, persisnya Coffea liberica var. Liberica untuk kopi liberika dan Coffea liberica var. Dewevrei untuk kopi excelsa.

Era awal

 

Di masa awal kopi hanya dikenal di masyarakat islam di jazirah Arab. Di awal abad ke-17 kopi mulai diperdagangkan ke luar Arab lewat pelabuhan Mocha di Yaman. Para pedagang Arab memonopoli komoditas ini untuk jangka waktu yang lama.

Tanaman kopi
Volume perdagangan biji kopi dari tahun 1700-1800-an. (Grafik: S Oestreich-Janzen, 2013)

Menginjak abad ke-18, bangsa Eropa mulai memproduksi kopi di luar Arab. Hingga pada tahun 1720 Belanda menggeser Yaman sebagai eksportir kopi dunia. Produk Belanda didapatkan dari perkebunan-perkebunan kopi di Jawa dan pulau-pulau sekitarnya, saat ini menjadi wilayah Indonesia. Indonesia menjadi produsen kopi terbesar dunia hampir satu abad lamanya.
Pada tahun 1830 posisi Indonesia sebagai produsen kopi terbesar digeser Brasil. Hingga saat Brasil tercatat sebagai penghasil kopi terbesar dunia.

Era modern

 

Perdagangan tanaman kopi
Volume perdagangan biji kopi dari tahun 1920-2008. (Grafik: S Oestreich-Janzen, 2013)

Dewasa ini kopi ditanam di lebih dari 50 negara di dunia. Brasil, Vietnam, Kolombia, Indonesia dan Etiopia merupakan negara-negara penghasil kopi paling terbesar. Lihat 10 negara penghasil kopi terbesar di dunia.

Brasil merupakan penghasil kopi paling dominan. Jumlah produksi kopi kopi berhasil sekitar sepertiga dari total produksi kopi dunia. Pada tahun 2015 Brasil menghasilkan sekitar 2,5 juta ton biji kopi. Produksi kopi di Brasil didominasi oleh jenis arabika sekitar 80%, sisanya robusta. Kopi arabika dinilai lebih baik dan dihargai lebih tinggi dibanding jenis kopi lainnya.

Sementara itu, pada tahun 2015 Indonesia menempati posisi ke-empat negara penghasil kopi. Menurut Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI), sekitar 83% produksi kopi Indonesia dari jenis robusta dan 17% arabika.8 Indonesia juga menghasilkan kopi jenis liberika dan excelsa namun jumlahnya tidak signifikan bila dibandingkan arabika dan robusta.

Sumber & referensi

 

  1. Cramer, J.S. 1957. A Review of Literature of Coffee Research in Indonesia. SIC Editorial, Inter-American Institute of Agriculture Science, Turrialba, Costa Rica.
  2. Gabriella Teggia and Mark Hanusz. 2003. A Cup of Java. Equinox Publishing, Jakarta – Singapore.
  3. S Oestreich-Janzen. 2013. Chemistry of Coffee on Comprehensive Natural Products II: Chemistry and Biology, p 1085-1113. Elsevier.
  4. William H. Ukers. 1922. All about coffee. The Tea and Coffee Trade Journal Company. New York.
  5. The Origin of Coffee: Kaldi and the Dancing Goats. Coffee Crossroads.
  6. Coffee legends. Turkish Style Coffee.
  7. Glossary Of Terms Used. International Coffee Organization (ICO).
  8. Areal dan Produksi. Gabungan Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI)

Diambil dari : https://jurnalbumi.com

Sejarah Kopi


Sejarah awal buah kopi, mulai dari asal-usul tanaman hingga perdagangan biji kopi


Sejarah kopi mencatat asal muasal tanaman kopi dari Abyssinia, suatu daerah di Afrika yang saat ini mencakup wilayah negara Etiopia dan Eritrea. Kopi menjadi komoditas komersial setelah dibawa oleh para pedagang Arab ke Yaman. Di jazirah Arab kopi popular sebagai minuman penyegar.
Di masa-masa awal bangsa Arab memonopoli perdagangan biji kopi. Mereka mengendalikan perdagangan lewat Mocha, sebuah kota pelabuhan yang terletak di Yaman. Saat itu Mocha menjadi satu-satunya gerbang lalu-lintas perdagangan biji kopi. Saking pentingnya arti pelabuhan tersebut, orang-orang Eropa terkadang menyebut kopi dengan nama Mocha.

Memasuki abad ke-17 orang-orang Eropa mulai mengembangkan perkebunan kopi sendiri. Mereka membudidayakan tanaman kopi di daerah jajahannya yang tersebar di berbagai penjuru bumi. Salah satunya di Pulau Jawa yang dikembangkan oleh bangsa Belanda. Untuk masa tertentu kopi dari Jawa sempat mendominasi pasar kopi dunia. Saat itu secangkir kopi lebih popular dengan sebutan “cup of java”, secara harfiah artinya “secangkir jawa”.

Etimologi istilah kopi

 

Sebelum lebih jauh menelusuri sejarah kopi ada baiknya kita mulai dengan etimologi kata “kopi” itu sendiri. Menurut Wiliam H. Ukers dalam bukunya All About Coffe (1922) kata “kopi” mulai masuk ke dalam bahasa-bahasa Eropa sekitar tahun 1600-an. Kata tersebut diadaptasi dari bahasa Arab “qahwa”. Atau mungkin tidak langsung dari istilah Arab tetapi melalui istilah Turki “kahveh”.
Di Arab istilah “qahwa” tidak ditujukan untuk nama tanaman tetapi merujuk pada nama minuman. Malahan ada beberapa catatan yang menyebutkan istilah tersebut awalnya merujuk pada salah satu jenis minuman dari anggur (wine). Tidak ada keterangan yang jelas sejak kapan mulai digunakan untuk menyebut minuman kopi. Tapi para ahli meyakini kata “qahwa” memang digunakan untuk menyebut minuman yang terbuat dari biji yang diseduh dengan air panas.

Masih menurut Ukers, asal-usul kata “kopi” secara ilmiah mulai dibicarakan dalam Symposium on The Etymology of The Word Coffee pada tahun 1909. Dalam simposium ini secara umum kata “kopi” diyakini merujuk pada istilah dalam bahasa arab “qahwa”, yang mengandung arti “kuat”.
Ada juga pihak yang menyangkal istilah kopi diambil dari bahasa Arab. Menurut mereka istilah kopi berasal dari bahasa tempat tanaman kopi berasal yakni Abyssinia. Diadaptasi dari kata “kaffa” nama sebuah kota di daerah Shoa, di Selatan Barat Daya Abissynia. Namun anggapan ini terbantahkan karena tidak didukung bukti kuat. Bukti lain menunjukkan di kota tersebut buah kopi disebut dengan nama lain yakni “bun”. Dalam catatan-catatan Arab “bun” atau “bunn” digunakan untuk menyebut biji kopi bukan minuman.

Dari bahasa Arab istilah “qahwa” diadaptasi ke dalam bahasa lainnya seperti seperti bahasa Turki “kahve”, bahasa Belanda “koffie”, bahasa Perancis “café”, bahasa Italia “caffè”, bahasa Inggris “coffee”, bahasa Cina “kia-fey”, bahasa Jepang “kehi”, dan bahasa melayu “kawa”. Pada faktanya hampir semua istilah untuk kopi di berbagai bahasa memiliki kesamaan bunyi dengan istilah Arab.
Khusus untuk kasus Indonesia, besar kemungkinan kata “kopi” diadaptasi dari istilah Arab melalui bahasa Belanda “koffie”. Dugaan yang logis karena Belanda yang pertama kali membuka perkebunan kopi di Indonesia. Tapi tidak menutup kemungkinan kata tersebut diadaptasi langsung dari bahasa Arab atau Turki. Mengingat banyak pihak di Indonesia yang memiliki hubungan dengan bangsa Arab sebelum orang-orang Eropa datang.

Legenda dan mitos

 

Siapapun yang mencoba menelusuri asal-usul kopi mungkin akan menemukan dua legenda yang sangat terkenal. Yakni cerita “Si Kaldi dan kambingnya” dan cerita “Ali bin Omar al Shadhili”. Kedua legenda ini menceritakan awal manusia mengolah buah kopi.

Si Kaldi dan kambingnya

Kaldi dan kambingnya
Legenda kopi dan kambingnya (Ilustrasi: Wiliam H. Ukers)

Cerita ini diambil dari legenda yang berkembang di Etiopia. Syahdan terdapat seorang pemilik kambing bernama Kaldi. Pada suatu hari si Kaldi mendapati kambingnya hiperaktif, melompat ke sana kemari seperti sedang menari. Setelah diselidiki ternyata kambingnya telah memakan buah beri merah dari pohon yang belum dikenali. Dengan rasa penasaran si Kaldi mencoba buah tersebut. Setelah memakannya ia mendapati dirinya berperilaku seperti kambingnya.

Si Kaldi melaporkan kejadian ini ke seorang biarawan. Si biarawan tertarik dengan cerita si Kaldi dan ia pun mencoba buah tersebut. Efeknya si biarawan merasa seperti mendapat tenaga ekstra, ia bisa terjaga di malam hari tanpa mengantuk untuk berdo’a. Karena rasa buah ini sedikit pahit, biarawan lain mulai mengolahnya dengan memanggang dan menyeduh buah tersebut. Sejak itu kopi dikenal menjadi minuman yang bisa memberikan kekuatan ekstra dan mengusir kantuk.

Ali bin Omar al Sadhili

 

Konon di kota Mocha, Yaman, hidup seorang tabib sekaligus sufi yang taat beribadah, namanya Ali bin Omar al Shadhili. Omar terkenal sebagai tabib handal yang bisa menyembuhkan penyakit dengan memadukan tindakan medis dan do’a. Namun sepak terjang Omar tidak disukai oleh penguasa lokal. Dengan berbagai intrik Omar digosipkan bersekutu dengan setan untuk menyembuhkan pasiennya. Akhirnya masyarakat kota Mocha mengusir Omar ke luar kota.

Setelah terusir dari kota, Omar berlindung di sebuah gua yang ia temukan dalam perjalanan. Ia mulai kelaparan dan menemukan buah beri berwarna merah. Omar memakan buah itu untuk mengusir rasa laparnya. Karena rasanya pahit, ia mulai mengolah buah itu dengan cara memanggang dan merebusnya.

Namun biji kopi yang telah diolah Omar tetap tidak bisa dimakan. Ia pun hanya bisa meminum airnya. Tak disangka air yang ia minum memberikan kekuatan ekstra. Singkat cerita, air seduhan yang dibuat Omar mulai terkenal. Banyak orang yang memintanya kepada Omar. Hingga fenomena terdengar penguasa kota. Kemudian Omar dipanggil kembali untuk tinggal di kota. Obat mujarab berupa cairan hitam tersebut disebut dengan nama Mocha.

Budaya minum kopi di masa awal

 

Dokumen tertulis yang paling tua tentang kopi ditemukan dalam catatan Al Razi (850-922) seorang ilmuwan muslim yang juga ahli kedokteran. Dia menyebut suatu minuman yang ciri-cirinya mirip kopi dengan sebutan bunshum.

Catatan ini diperkuat oleh seorang ahli kedokteran setelahnya, Ibnu Sina (980-1037 ), yang menggambarkan sesuatu biji yang bisa diseduh dan berkhasiat menyembuhkan salah satu penyakit perut. Semua keterangan yang diberikan Ibnu Sina merujuk pada ciri-ciri kopi yang kita kenal saat ini. Dia menyebut minuman tersebut bunshum dan bijinya dengan nama bun.

Kopi menjadi komoditas ekonomi penting di dunia islam. Minuman kopi sangat populer di kalangan para peziarah di kota Mekah, meskipun pernah beberapa kali dinyatakan sebagai minuman terlarang. Para peziarah meminum kopi untuk tetap terjaga ketika beribadah di malam hari.
Popularitas kopi semakin meluas di masa kekhalifahan Turki Ustmani. Di ceritakan minuman kopi menjadi sajian utama di setiap perayaan di Istambul. Di masa ini juga kopi mulai disukai orang-orang Eropa.

Di awal tahun 1600-an para pedagang di Venesia membeli kopi dari pelabuhan Mocha di Yaman. Dari tempat ini menyebar ke daerah Eropa lainnya. Kemudian pada tahun 1668 kopi mulai menyeberang samudera Atlantik dan tiba di New York, kala itu masih menjadi kooni Belanda.
Iklan komersial minuman kopi di Amerika Serikat, tahun 1870 – 1900. 
(Sumber: Boston Public Library/Flickr)

 

Budidaya massal tanaman kopi

 

Asal usul tanaman

 

Hampir semua literatur yang membahas sejarah kopi menyetujui asal mula tanaman kopi dari Abyssinia, suatu wilayah di Afrika yang dahulu ada di bawah Kekaisaran Etiopia. Saat ini wilayah tersebut mencakup teritori negara Etiopia dan Eritrea. Di masa awal semua tanaman kopi yang dibudidayakan merupakan jenis kopi arabika (Coffea arabica).

Dari Abyssinia tanaman kopi dibawa dan dibudidayakan di Yaman. Diperkirakan tanaman kopi mulai dibudidayakan di Yaman pada tahun 575. Pada masa ini perkembangan budidaya kopi berjalan lambat. Biji kopi hanya diperdagangkan ke luar Arab lewat pelabuhan Mocha di Yaman.
Para pedagang Arab mencoba melindungi eksklusifitas tersebut dengan mewajibkan merebus biji kopi terlebih dahulu. Dengan harapan biji kopi tersebut tidak bisa ditumbuh menjadi tanaman.

Penyebaran ke Asia Selatan dan Asia Tenggara

 

Upaya untuk mengisolasi biji kopi oleh para pedagang Arab tidak berhasil. Pada tahun 1616 orang Belanda berhasil membawa tanaman kopi dari pelabuhan Mocha ke Holand, Belanda. Tahun 1658 bangsa Belanda mulai mencoba membudidayakan tanaman kopi di Srilangka. Tidak ada laporan budidaya tanaman ini menuai sukses besar.

Diketahui juga orang-orang Eropa pernah mencoba membudidayakan tanaman kopi di Dijon, Perancis. Namun upaya ini gagal total, kopi tidak bisa tumbuh di tanah Eropa.
Selain lewat pelabuhan ternyata banyak pintu masuk lain yang memungkinkan lalu lintas perdagangan biji kopi. Salah satunya lewat perjalanan para peziarah yang ingin berhaji ke Mekah dan Madinah. Pada tahun 1695 Baba Budan, seorang peziarah dari India, berhasil membawa biji kopi produktif ke luar Arab. Ia membudidayakan tanaman kopi di Chikmagalur, India bagian Selatan.
Pada tahun 1969 Belanda mendatangkan kopi dari Malabar, India, ke Pulau Jawa. Tanaman kopi tersebut berasal dari biji yang di bawa dari Yaman ke Malabar. Tanaman kopi yang tersebut ditanam di Kadawung, namun upaya ini gagal karena banjir.

Tiga tahun kemudian Belanda mendatangkan kembali stek kopi dari Malabar. Upaya kali ini menuai sukses. Kopi tumbuh dengan baik di perkebunan-perkebunan di Jawa. Hasil produksinya menggeser dominasi kopi Yaman. Bahkan saat itu Belanda menjadi pengekspor kopi terbesar di dunia.

Penyebaran ke Amerika dan kepulauan sekitarnya

 

Kopi didatangkan ke wilayah Amerika dan kepulauan di sekitarnya lewat dua pintu. Di mulai pada tahun 1706 ketika Belanda membawa tanaman kopi dari Jawa ke kebun raya di Amsterdam. Dari Amsterdam tanaman kopi di bawa ke Suriname. Sebagian lain diberikan sebagai hadiah kepada Raja Louis XIV di Paris.

Pada tahun 1720 tanaman kopi dari Paris dibawa untuk ditanam di koloni Perancis di Kepulauan Karibia. Kisah perjalanan tanaman kopi sangat populer. Diceritakan sebuah pohon kopi yang di bawa dengan kapal Perancis bisa tetap hidup karena disirami dengan air minum milik petugas pembawanya. Semua tanaman kopi yang berasal dari sumber di Amsterdam ini dikenal dengan kultivar Typica.

Jalan lain tanaman kopi masuk ke Amerika lewat Pulau Bourbon, sekarang La Reunion. Tanaman berasal dari biji yang diberikan oleh utusan Sultan Yaman kepada Raja Louis XIV pada trahun 1715. Perancis menerima 60 butir benih kopi di Bourbon. Kemudian benih ini menyebar ke daerah jajahan Perancis di Amerika dan daerah lainnya. Tanaman kopi ini dikenal dengan kultivar Bourbon.
Kedua kultivar kopi arabika, yakni Typica dan Bourbon dipercaya menjadi sumber tanaman kopi yang saat ini dikembangkan di berbagai perkebunan

Diambil dari : https://jurnalbumi.com

Rabu, 12 April 2017



Jenis-Jenis Kopi Nusantara

Indonesia adalah negara yang diberkahi dengan letak geografis dan struktur tanah baik tempat bertumbuhnya kopi. Beberapa wilayah di Indonesia tersebar perkebunan kopi yang masing-masing hasil kopinya memiliki karakteristik unik dan berbeda-beda. Apa saja kopi nusantara dan bagaimana karakteristik setiap biji kopinya? Yuk, baca artikel dibawah ini.

Kopi Sumatera

Kopi Sumatera adalah salah satu kopi paling terkenal di dunia. Kopi Sumatera yang paling terkenal berasal dari Sumatera Utara dengan kopi Sidikalang, Lintong dan Mandheling. Kopi Sumatera memiliki cita rasa yang berat. Bisa dikatakan paling berat dan kompleks di antara jenis-jenis kopi yang ada di dunia. Beberapa ahli kopi mengatakan kopi Sumatera memiliki cita rasa unik karena dengan karakteristik dengan aroma rempah dan juga earthy. Kopi Sumatera memiliki tekstur halus dan berbau tajam. Inilah yang menyebabkan kopi Sumatera menjadi salah satu kopi paling laris. Kopi Suamtera diproses dalam dua cara yaitu proses semi-washed dan dry-processed. Ditanam di ketinggian dan kontur tanah ideal menjadikan kopi Sumatera berkualitas terbaik bahkan di mata Internasional.

Kopi Sulawesi

Tana Toraja adalah daerah yang diberkahi tanah tempat kopi tumbuh subur dengan kualitas yang tak kalah baik dari kopi dari daerah lain. Rasa yang kuat dan kadar asam yang tinggi menjadikan kopi Toraja diminati pasar yang memang menyukai kopi dengan keasaman tinggi. Meskipun sering disebut-sebut bercita rasa mirip dengan kopi Sumatera, tapi kopi Toraja memiliki ciri sendiri yang tentunya berbeda. Kopi Toraja memiliki bentuk biji yang lebih kecil dan lebih mengkilap dan licin pada kulit bijinya. Meskipun memiliki cita rasa asam, kopi Toraja memilki aroma earthy yang khas. Dan menurut ahli kopi aroma itulah yang menjadikan kopi Toraja berbeda dengan karakteristik yang unik pula.

Kopi Aceh Gayo

Siapa yang tidak kenal dengan kopi Aceh Gayo yang sudah tersohor kenikmatannya? Kopi yang berasal dari daerah Tanah Gayo Aceh Tengah ini menjadi salah satu jenis kopi yang paling banyak dikonsumsi masyarakat maupun yang diekspor ke luar negeri. Kopi Gayo memiliki ciri unik dengan kekhasan aroma yang berbeda dengan kopi-kopi lain di Indonesia. Kopi Gayo menghasilkan sebagian besar jenis kopi Arabika terbaik. Cita rasa kopi Gayo sendiri terasa lebih pahit dengan tingkat keasaman rendah. Aromanya yang sangat tajam menjadikan jenis kopi ini disukai. Tak heran kopi ini menjadi penghasil kopi terbesar di Asia. Meskipun rasanya pahit, kopi Gayo memberi aroma gurih pada setiap tegukan.


Kopi Bali Kintamani

Kopi yang berasal dari daerah Kintamani Bali nan sejuk ini memang memiliki keunikan cita rasa yang berbeda dari kopi di daerah lain di nusantara. Kopi Bali Kintamani memiliki cita rasa buah-buahan yang asam dan segar. Hal tersebut terjadi dikarenakan tanaman kopi di Bali Kintamani ditanam bersamaan dengan tanaman lain seperti aneka sayuran dan buah jeruk. Kopi jenis ini menggunakan sistem ‘tumpang sari’ bersama dengan jenis tanaman lain. Itu kenapa biji kopinya meresap rasa buah-buahan seperti jeruk. Selain memiliki cita rasa ‘buah’, kopi Bali Kintamani memiliki cita rasa yang lembut dan tidak berat. Keunikanya tersebut di dapat dari letak geografisnya yang unik juga. Bagi kamu yang menyukai cita rasa kopi berbeda, kopi Bali Kintamani bisa menjadi pilihan yang tepat.

Kopi Papua Wamena

Kopi yang berasal dari wilayah Timur Indonesia ini tumbuh pada ketinggian 1.500 m dengan suhu 20 derajat. Menjadikannya kopi dengan cita rasa ringan dan memiliki keharuman tajam yang nikmat. Kopi Papua Wamena memiliki tingkat keasaman yang rendah, mungkin dikarenakan letak geografisnya dan juga struktur tanah tempat kopi ini bertumbuh. Yang membuat kopi ini berkualitas tinggi adalah para petani menanam kopi ini secara organik karena tidak menggunakan bahan-bahan kimia yang tentu bisa memengaruhi kopi yang akan dihasilkan. Untuk kamu yang menyukai kopi dengan rasa ringan dan lembut, aroma tajam yang nikmat serta tekstur yang nyaris tanpa ampas, kopi Papua Wamena adalah pilihan yang tak mungkin salah.

Kopi Flores Bajawa

Flores terkenal dengan keindahan alamnya yang menakjubkan, siapa sangka daerah ini ternyata juga menghasilkan kopi yang tak kalah nikmatnya. Kopi Flores Bajawa adalah kopi yang berasal dari Kabupaten Ngada. Kopi ini tumbuh di dataran Flores yang subur meskipun di kelilingi oleh pegunungan yang masih aktif maupun tidak. Tanah tempat kopi ini dihasilkan ternyata mengandung andosols subur dari abu gunung berapi yang ternyata sangat baik untuk menanam kopi. Dan jadilah kopi Flores Bajawa yang nikmatnya tak kalah dengan kopi nusantara lainnya. Kopi Flores Bajawa biasanya melalui proses giling basah. Kopi ini memiliki sedikit aroma fruity dan sedikit bau tembakau pada after taste-nya. Sebuah keunikan yang mungkin tak didapatkan dari biji kopi yang berasal dari daerah lain.

Kopi Jawa

Kopi yang berasal dari Pulau Jawa ini ternyata memiliki keunikan cita rasa sendiri. Aroma rempah yang lahir secara alami menjadikan kopi jenis ini dinikmati karena memiliki karakteristik yang berbeda. Meskipun kopi Jawa tidak sekuat kopi Sumatera dan Sulawesi dari segi cita rasa dan aroma, tetapi dia tetap memiliki penikmat sendiri karena aroma tipis rempah yang dihasikan. Menjadikan pengalaman minum kopi terasa lebih unik dan berbeda. Sebagian besar kopi Jawa melalui proses giling basah. Itu jugalah yang membuat cita rasanya tidak terlalu kuat. Meski begitu kopi Jawa tetap diminati karena menurut beberapa ahli, tidak semua kopi nusantara mampu menghasikan kopi yang beraroma ‘rempah’.


Diambil dari: https://majalah.ottencoffee.co.id